whatsapp

HIBURAN

Digitalisasi Umkm Sebagai Upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Perekonomian Pasca Pandemi

BY PUTRI / 25 Apr 2022

Digitalisasi Umkm Sebagai Upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Perekonomian Pasca Pandemi

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang sangat signifikan pada seluruh sektor dalam perekonomian. Berbagai jenis usaha mengalami tekanan yang kuat, meskipun masih terdapat sebagian kelompok usaha yang dapat mengambil peluang dan manfaat dari pandemi ini. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) salah satu sektor yang mendapat mengambil peluang di masa pandemi Covid-19. Porsi kontribusi dan peranan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM ini membuktikan bahwa UMKM memiliki dampak yang sangat besar terhadap perekonomian nasional. Dari lapangan kerja, UMKM merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, hingga sumbangannya yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah atau UMKM  mencatat, bahwa UMKM berkontribusi terhadap PDB sebesar 61 persen dan mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja.

Di lain sisi, meskipun memiliki kontribusi dan peran besar, UMKM masih dihadapkan pada berbagai persoalan dan tantangan. Berangkat dari inisiatif perekonomian riil di tengah masyarakat, seringkali UMKM tidak dibekali dengan pengetahuan manajemen yang mapan dan rapi. Kelemahan inipun memunculkan persoalan lain, yakni mayoritas UMKM masih sulit mengakses permodalan dari sektor perbankan lantaran tidak adanya catatan keuangan sebagai syarat pengajuan pinjaman.

Menurunnya daya beli masyarakat akibat adanya pembatasan kegiatan di luar rumah sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19 juga  turut membuat beberapa pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merasakan dampak negatifnya. Survey dari Bank Indonesia mengungkapkan 87,5% UMKM terdampak secara negatif oleh pandemi. Namun ada sebanyak 12,5% responden menyatakan tidak terdampak ekonomi dari pandemi, dan bahkan 27,6% di antaranya mengungkapkan peningkatan penjualan. Strategi yang dipakai oleh mereka yang tidak terdampak oleh pembatasan ini  ialah berjualan secara online dan menambah variasi produk. Hal ini dikarenakan adanya pergeseran pola perilaku masyarakat ke arah digitalisasi di masa pandemi. Oleh karena itu, UMKM sebagai penggerak ekonomi Indonesia perlu beradaptasi dan mulai memanfaatkan teknologi digital dalam model bisnisnya agar dapat meningkatkan daya saing di era kenormalan baru pasca Covid-19.

Oleh karena itu, dalam rangka mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional yang didominasi oleh Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM), Pemerintah tengah berupaya untuk mengoptimalkan potensi dan produktivitas UMKM dengan mendorong digitalisasi bagi UMKM offline dan menyediakan berbagai stimulus bagi UMKM yang telah terdigitalisasi. Pemerintah telah lama menyadari pentingnya digitalisasi UMKM ini. Sebelum pandemi, baru 16% pelaku UMKM memanfaatkan platform e-commerce untuk memasarkan produknya. Sehingga ketika pandemi datang, UMKM berada di garis terdepan menjadi sektor yang paling terdampak.

Dalam rangka pengembangan ekonomi digital, pemerintah telah menyusun Strategi Nasional Ekonomi Digital. Pemerintah memberi dukungan dalam pembangunan infrastruktur digital supaya tercipta iklim inovasi yang baik. UU Cipta Kerja akan mengakomodasi upaya pengembangan ekonomi digital, antara lain melalui pengaturan tentang perluasan pembangunan infrastruktur broadband, tarif batas atas dan/atau bawah untuk melindungi kepentingan masyarakat dan persaingan usaha yang sehat serta kerja sama penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penerapan teknologi baru.

Di sisi lain, pemerintah juga telah meluncurkan program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang bertujuan untuk mendorong digitalisasi (onboarding) bagi UMKM offline serta mendorong national branding produk UMKM unggulan pada berbagai marketplace. Selain itu, gerakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk UMKM. Hingga akhir tahun tercatat sebanyak 11,7 juta UMKM on boarding ke bisnis daring.

Pemerintah juga menyambut baik terhadap seluruh upaya untuk meningkatkan kemampuan UMKM menembus pasar global seperti:

“Kreasi Nusantara, From Local to Global” yang memfasilitasi penjualan produk lokal ke Malaysia dan Singapura. Dari program Kreasi Nusantara ini sendiri, ada sebanyak 5 ribu produk dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang akan diekspor ke dua negara tersebut. Program Kreasi Nusantara juga berupaya meminimalisasi kesulitan pelaku usaha dalam melakukan ekspor produk dengan mengadakan pelatihan kepada partisipan program.

“BukaGlobal” merupakan program pemerintah yang bekerjasama dengan unicorn e-commerce besutan Ahmad Zaky dan Fajrin Rasyid, yaitu Bukalapak. Buka Global memfasilitasi pembelian produk lokal oleh para customer dari Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, dan Taiwan. Namun, untuk saat ini jasa pengiriman BukaGlobal pun baru dapat diaktifkan oleh pelapak tertentu. Posisi mereka pun harus berada di area Jakarta dan Tangerang. Meskipun begitu, jangkauannya mungkin akan diperluas ke wilayah lain, baik dari segi pelapak maupun pembelinya.  Jasa pengiriman BukaGlobal hanya berlaku satu arah dari Indonesia ke luar negeri (ekspor). Untuk bisa menggunakan layanan BukaGlobal ini, metode pembayaran yang tersedia adalah kartu kredit, kartu debit, dan collection point yang disediakan oleh local remittance agent. Pembayaran transaksi juga menggunakan mata uang rupiah. Pembeli dapat mengakses fitur BukaGlobal melalui deretan menu di halaman utama Bukalapak. Lalu, pembeli dapat memilih negara yang akan menjadi tujuan pengiriman barang.

“ASEAN Online Sale Day” yang bertujuan meningkatkan transaksi lintas batas e-commerce di kawasan Asia Tenggara. Indonesia akan menampilkan produk-produk unggulan hasil karya 97 pelaku usaha nasional, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM). Acara belanja daring ini akan berlangsung secara serentak di platform niaga elektronik (niaga-el) se-ASEAN. Produk-produk yang akan ditampilkan pelaku usaha Indonesia meliputi produk fesyen, produk furnitur dan kerajinan, kopi, teh dan gula semut, bumbu masakan, rempah-rempah, makanan olahan, kosmetik, alas kaki, jasa pendidikan, dan jasa pariwisata. Perusahaan Indonesia yang telah memiliki kesiapan infrastruktur untuk melayani konsumen baik di Indonesia maupun di sembilan negara anggota ASEAN antara lain PT. Semeru Indonesia Maju (Goorita), PT. Astra International Tbk, PT. Indonesia in Your Hand, PT. XL Planet (Elevenia), PT Global Digital Niaga (Blibli), PT. Grab Indonesia, dan PT. Shopee Indonesia. Sedangkan beberapa perusahaan Indonesia yang menargetkan konsumen di dalam negeri pada AOSD  ini antara lain Batik Duo Serangkai, Indonesia Robusta, PT. Gunung Subur Sejahtera, PT. Kain Ratu Utama, PT. Bebica Hijab International, Ladang Lima, Blakenheim, dan PT. Asta Nadi Karya Utama. Produk-produk AOSD  dapat diakses melalui www.onlineasean.com. Konsumen dari berbagai negara dapat mengklik logo perusahaan pada laman AOSD tersebut dan secara otomatis akan tersambung ke landing page peserta dari berbagai negara.

Selain beberapa kebijakan diatas, pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga keberlangsungan usahanya ditengah pandemi Covid-19, antara lain restrukturisasi kredit UMKM, kredit modal kerja berbunga murah, serta dukungan lainnya seperti insentif PPh final UMKM dan bantuan presiden produktif usaha mikro untuk mencapai target 30 juta pelaku UMKM melek digital. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah bagi pengguna digital di sektor UMKM tentu menjadi kabar gembira dan menjadi dasar pelaku usaha untuk maju lebih baik lagi.

Lainnya

Asyik! KAI Akan Berikan Diskon Khusus Lansia Hingga 20%, Catat Syarat dan Ketentuannya

BY PUTRI

Catat ! Begini Strategi Memulai Bisnis Kos-Kosan Bagi Pensiunan

BY PUTRI

Cara Menabung yang baik di Masa Pensiun

BY ANDERSON SEBASTIAN