whatsapp

BERITA

Makna Idul Adha : Mengajarkan Untuk Senantiasa Bersyukur dan Ikhlas

BY PUTRI / 8 Jul 2022

Makna Idul Adha : Mengajarkan Untuk Senantiasa Bersyukur dan Ikhlas

Momen Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan ritual pengorbanan hewan kurban. Pengorbanan tidak hanya sekadar melakukan pemotongan hewan kurban sesuai syariat agama tetapi selalu ada makna dibaliknya. Nabi Ibrahim telah memberikan suri tauladan dalam memenuhi perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim sukses mencapai keimanan melalui berbagai usaha dan pengorbanan. Kesuksesan membutuhkan pengorbanan dan keberserahan kepada Allah SWT terhadap usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan, itu yang perlu kita contoh dalam kisah hidup Nabi Ibrahim.

Tidak ada kesuksesan yang instan, namun membutuhkan kesempatan dan pengorbanan. Sudah banyak contoh kesuksesan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi kesuksesan dalam bekerja, pengasuhan, pendidikan, relasi, ataupun berbagai bentuk kesuksesan yang lain. Apabila kita cermati satu persatu setiap kisah kesuksesan yang diraih selalu didahului adanya kesempatan dan pengorbanan. Namun seringkali kita mengharapkan adanya kesuksesan yang instan.

Meski masih beberapa hari lagi, suasana Idul Adha sudah mulai terasa. Hal ini bisa terlihat seperti di pelataran masjid-masjid atau beberapa sudut jalan yang sudah mulai terpasang atribut (pedagang) yang menjual hewan kurban seperti kambing dan sapi. Hampir setiap hari ada saja pengunjung yang membelinya, lucunya anak-anak kecil seringkali berkumpul ke pelataran guna melihat hewan kurban dari dekat. Tak sedikit hewan kurban yang memiliki badan gemuk, bahkan hingga yang kurus sekalipun, sudah membuat kita gemas melihatnya, terlebih saat mengeluarkan bunyi ‘khas’ dari hewan tersebut. Hanya setahun sekali bisa kita rasakan momentum tersebut, dan ternyata dibalik semua kegiatan Idul Adha ini tersimpan makna-makna menarik lho. Yuk, kita simak apa saja makna dari Idul Adha tersebut !

Mengajarkan Untuk Ikhlas

Ibadah kurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan, itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun dari keikhlasan dalam berqurban. Ibadah haji juga demikian, kita diperintahkan untuk ikhlas, bukan cari gelar dan cari sanjungan.

Mengingat Bahwa Sifat Duniawi Tidaklah Kekal

Mungkin selama kita hidup di duniawi ini maka banyak sekali target hidup yang harus tercapai. Atau bahkan target-target yang belum tercapai itu akan selalu dikejar, begitu ambisi. Namun Anda harus mengingat kembali, apabila Anda sudah mendapatkan semuanya, lantas apakah Anda akan bisa mempertahankan selamanya?

Tentunya ambisi di duniawi tidak ada yang abadi, karena keabadian hanyalah milik Allah SWT. Maka dari itu, peristiwa kerelaan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Padahal sudah lama sekali beliau menanti kehadiran seorang anak, demi ketakwaan kepada Allah SWT.

Kerelaan akan duniawi perlu kita lakukan, tidak hanya semakin meningkatkan rasa ketakwaan kita, namun juga dapat mendamaikan hati dan pikiran kita agar selalu mengingat bahwa apapun di duniawi ini tidaklah kekal, jadi kita tidak selalu menomorsatukan duniawi di atas segala-galanya.

Meningkatkan Rasa Syukur

Bersyukur itu perlu sekali karena selain meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersyukur juga dapat meningkatkan ketenteraman hidup kita. Hari raya Idul Adha rupanya juga memiliki makna dalam meningkatkan rasa bersyukur. Kita patut bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT sampai saat ini sehingga masih bisa merasakan langsung perayaan hari raya Idul Adha. Selain itu, kita akan semakin bersyukur karena masih diberi rezeki lebih sehingga kita dapat ikut serta dalam pembelian hewan kurban, dan pastinya dapat membantu saudara kita yang kurang mampu.

Menimimalisasi Ketamakan

Tentunya harta berlimpah adalah anugerah sekaligus sebagai pengingat apakah dengan lebihnya harta Anda akan memikirkan saudara kita yang membutuhkan dengan menyisihkan sebagian harta tersebut. Tak jarang, banyak juga dengan amanah harta berlebih mereka tidak memikirkan saudara yang membutuhkan di sekitarnya. Namun justru dilahap habis harta tersebut dengan sifat ketamakan.

Mempersiapkan Bekal

Rupanya setiap amal perbaikan kita tentu akan tercatat, begitu juga dengan amal keburukan yang terus-menerus kita lakukan di setiap harinya. Anda tentu sudah tahu bahwa berkurban merupakan perbuatan baik. Jadi dengan rutin melakukan perbuatan baik antar sesama maka bisa dijadikan sebagai bekal di akhirat nanti. Allah SWT begitu menyukai hamba-Nya yang selalu menolong sesamanya.

Lainnya

Ingin Buka Usaha Rental Mobil? Ini 5 Tips Memulai Usaha Rental Mobil Untuk Pemula

BY PUTRI

Persyaratan Pengurusan Hak Program Tabungan Hari Tua (THT)

BY PUTRI

Ketahui 9 Warna Urine Ini Serta Maknanya Bagi Kesehatan Anda

BY PUTRI