whatsapp

KESEHATAN

Yuk! Kenali Apa Itu Buta Warna Parsial yang Menyebabkan Calon Bintara Gagal Mengikuti Pendidikan AKPOL

BY PUTRI / 03 Jun 2022

Yuk! Kenali Apa Itu Buta Warna Parsial yang Menyebabkan Calon Bintara Gagal Mengikuti Pendidikan AKPOL

Kabar mengenai seorang calon siswa Bintara 2021 bernama Fahri Fadilah Nur Rizki (21) yang gagal menjadi polisi tengah disorot publik setelah viral di media sosial. Dia sudah masuk peringkat 35 dari 1.200 peserta, namun tetap gagal menjadi siswa Korps Bhayangkara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan membenarkan bahwa Fahri telah mendaftar sebagai calon siswa di Polda Metro Jaya dengan nomor pendaftaran 031125-P0431 asal pengiriman Polres Jakarta Timur (Jaktim).

Zulpan menerangkan bahwa pada 2019 hingga 2020 Fahri tidak lolos seleksi pada tahap pemeriksaan kesehatan karena didiagnosa buta warna parsial. Namun pada 2021, dia sempat dinyatakan lulus tahap 1 tahun anggaran 2022.

Atas temuan itu, Polda Metro Jaya melakukan tindak lanjut dengan pemeriksaan yang disaksikan Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kabid Propam Polda Metro Jaya, Sekretariat SDM Polda Metro Jaya dan orang tua wali Fahri di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 25 Januari 2022.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan buta warna parsial itu? Mengapa ini menjadi salah satu syarat penting untuk masuk ke akademi kepolisian? Mari kenali bersama seputar buta warna parsial pada artikel ini!

Apa itu buta warna parsial?

Buta warna parsial adalah suatu kelainan yang menyebabkan mata tidak mampu untuk membedakan corak warna. Buta warna parsial bukan berarti tidak bisa melihat warna sama sekali, melainkan hanya terbatas pada warna-warna tertentu, misalnya merah-hijau atau biru-kuning. Keterbatasan dalam membedakan warna ini jarang terjadi pada banyak orang sehingga perlunya pengecekan secara khusus dengan bantuan dokter.

Buta warna parsial biasanya terjadi ketika salah satu anggota keluarga memiliki kelainan pada fotopigmen, yaitu molekul yang bertugas dalam mendeteksi warna dalam sel-sel pada retina.

Selain karena adanya faktor keturunan, buta warna dapat disebabkan oleh paparan zat kimia berbahaya atau cedera fisik pada beberapa area tubuh, seperti mata, saraf penglihatan, bagian otak yang bertugas memproses informasi warna. Tak hanya itu, katarak dan usia juga dapat menjadi penyebab seseorang mengalami buta warna.

Jenis-Jenis Buta Warna Parsial

Buta warna parsial terbagi menjadi dua jenis dan masing-masingnya memiliki gejala yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasannya:

Buta warna merah–hijau

Buta warna merah–hijau adalah jenis buta warna yang paling sering dialami oleh penderita buta warna. Ada beberapa jenis buta warna merah–hijau, yaitu:

Protanopia

Protanopia merupakan jenis buta warna parsial yang terjadi ketika seseorang melihat warna merah tampak seperti warna hitam. Penderita buta warna jenis ini juga mungkin akan melihat warna jingga hijau menjadi kuning.

Protanomali

Penderita protanomali akan melihat warna jingga, kuning, dan merah, menjadi warna hijau. Warna hijau yang terlihat juga tidak secerah warna aslinya.

Deuteranomali

Seseorang yang didiagnosa menderita deuteranomali jika melihat warna hijau dan kuning tampak seperti merah. Penderitanya juga sulit membedakan antara ungu dan biru.

Deuteranopia

Deuteranopia merupakan kondisi ketika mata melihat warna hijau menjadi krem dan warna merah menjadi kuning kecokelatan.

Buta warna biru–kuning

Buta warna biru–kuning lebih jarang dialami dibandingkan dengan merah-hijau. Terdapat dua jenis buta warna biru–kuning, yaitu:

Tritanomali

Jenis buta warna parsial ini membuat seseorang melihat warna biru menjadi lebih hijau. Kondisi ini juga kerap membuat penderitanya sulit membedakan warna merah muda dengan warna merah atau kuning.

Tritanopia

Tritanopia merupakan suatu kondisi ketika mata melihat warna biru seperti hijau dan warna kuning seperti abu–abu terang atau keunguan.

Tes buta warna parsial bisa dilakukan dengan empat metode, yaitu:

  1. Tes buta warna Ishihara

Sesuai dengan namanya, penemu tes buta warna adalah Shinobu Ishihara, seorang optalmologis asal Jepang. Tes ni paling sering digunakan untuk mengetahui buta warna parsial, terutama pada buta warna merah-hijau.

Tes Ishihara terdiri dari 24 halaman, memuat gambar berupa titik-titik warna yang membentuk pola angka. Tujuan dari tes ini adalah membaca angka-angka yang tersusun dari titik-titik berwarna.

Saat tes, Anda perlu menutup salah satu mata ketika membaca angka dan dokter juga bisa meminta Anda menulusuri pola titk berwarna yang membentuk angka. Pada gambar-gambar dalam tes Ishihara terdapat angka yang hanya dapat dibaca oleh orang dengan penglihatan normal. Namun, ada juga gambar yang angkanya bisa dibaca oleh orang dengan mata normal, orang dengan buta warna parsial, dan orang dengan buta warna total.

Apabila Anda memiliki buta warna parsial merah-hijau, Anda akan kesulitan membaca beberapa halaman. Anda akan memiliki jawaban yang berbeda dibandingkan orang dengan penglihatan normal. Bahkan, bisa jadi Anda tidak melihat keberadaan angka sama sekali. Akan tetapi, beberapa halaman memang dikhususkan hanya dapat dibaca oleh penderita buta warna parsial. Pada bagian ini, orang dengan penglihatan normal biasanya tidak menemukan adanya angka, sebaliknya orang dengan buta warna parsial justru melihat adanya angka.

  1. Hardy-Rand-Rittler (HRR)

Tes buta warna ini pertama kali ditemukan pada tahun 1945 dan dapat digunakan untuk mendeteksi keseluruhan jenis buta warna parsial (merah, hijau, dan biru).

Tes HRR terdiri dari 4 bagian besar dan hasil dari masing-masing tes akan digunakan untuk menentukan jenis kelainan warna yang Anda miliki. Pada tes ini Anda akan diminta untuk melihat beberapa bentuk gambar, seperti segitiga ataupun lingkaran. Selain digunakan sebagai metode pemeriksaan buta warna, tes ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi penurunan kemampuan penglihatan warna yang menyertai beberapa penyakit mata.

Salah satu contoh penyakit mata yang bisa dideteksi dengan tes HRR yakni neuropati optik.

  1. Farnsworth-Munsell 100-hue (Tes Hue)

Berbeda dengan tes buta warna lainnya, tes Hue terdiri dari 85 gradasi warna yang tersusun dalam 4 baris. Tes dilakukan dengan mengurutkan warna-warna tersebut sehingga membentuk suatu gradasi.

Dokter biasanya akan meminta Anda mengurutkan gradasi dari warna pelangi yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Lalu hasilnya akan dijumlahkan untuk mengetahui seberapa berat atau ringan gangguan warna yang Anda alami. Jika Anda mengalami kesulitan menyusun gradasi dari warna-warna tersebut, kemungkinan Anda memiliki gangguan penglihatan warna.

Dilansir dari National Eye Institute, tes Hue biasanya dilakukan untuk mendeteksi kelainan penglihatan warna untuk kualifikasi profesi fotografer dan desainer grafis.

  1. Tes buta warna dengan anomaloskopi

Tidak seperti tes buta warna lainnya, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk seperti mikroskop, yaitu anomaloskop. Cek buta warna menggunakan anomaloskop merupakan jenis pemeriksaan gangguan penglihatan warna yang paling akurat.

Pada tes ini, Anda akan diminta untuk menyesuaikan warna dengan warna yang ada dalam alat anomaloskop dengan memutar beberapa tombol pada alat tersebut. Pada alat terdapat sebuah lingkaran yang terbagi menjadi dua warna, yaitu merah-hijau dan kuning. Anda perlu menunjukkan warna yang serupa dengan dua bagian lingkaran tersebut.

Selain cek buta warna, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan mata lengkap atau tes lainnya untuk mengetahui penyebab kelainan penglihatan warna secara pasti.

Untuk Anda yang sudah didiagnosa mengalami buta warna, jangan berkecil hati, jika Anda tidak bisa masuk kejurusan atau pekerjaan yang Anda inginkan, masih banyak jurusan atau pekerjaan yang akan menerima Anda. Mungkin saja Anda akan lebih sukses dijurusan atau pekerjaan yang tak ada syarat seperti itu.

Lainnya

Apa itu Nebulizer? Yuk, Simak Fungsi dan Cara Penggunaannya!

BY PUTRI

Mau Untung? Yuk, Coba Bisnis Lilin Aromaterapi!

BY PUTRI

Jasa Konsultan, Peluang Bisnis Dengan Omzet Besar

BY PUTRI